dik, jangan sangka kelakar tadi sebagai tawaku perihal nyawa. hanyalah pengalihan dari sedih yang tiada mampu lagi tertahan. kau tahu dik? sejak lama aku mencintai sains. tapi tak begitu jauh langkahku. cukup bolakbalik membaca berbukubuku yang berlabelkan penyakit. mataku sekadar ingin tahu banyak ilmu, ilmu penyakit. kata puisiku terdahulu. penyair memang pesakit,dik. sebab kepemilikan gudang kata yang hanya untuk kitakita. dik, seandainya kau tahu. dan ini bukan sebuah lelucon. sejak lama, sejak membaca lembarlembar naskah penyakit. citacitaku hanya satu. ini ginjal mau aku sumbang buat mereka yang hendak temu ajal. entahlah dik, berdoa saja moga proklamasi gilaku itu tak sekadar janji mulukmuluk layaknya janjijanji para pilkadator.
depan laptop, 28 Agustus 2008
Categorised in ^_^, bersama kawan
seandai ia pahami bintang berjuta di atas sana
masingmasing simpan mimpiku tentangnya
seandai ia tau baitbait dalam doaku
tak pernah lupa menulis pinta akan dirinya
seandai ia mengerti tangis hujan pada malam
adalah tangis bahagiaku sebab telah mengenalnya
seandai ia sadari betapa aku menjaga tiap sayang
dan sabarku agar dapat terus mencintainya
depan laptop, 28 Agustus 2008
Categorised in ^_^
Ini malam punya remaja, punya kota yang berleha-leha.
Yang habis ditenggelamkan di pinggir garis pantai, ramai pasar malam, atau
di restoran warisan para jutawan. Penyair duduk di satu waktu, di malam minggu.
Duduk nikmati malam yang kelam oleh berjuta huruf yang mesti dirangkaikan.
Mungkin pula bersama hidung tersumbat pun serak serak tenggorokan.
Penyair punya tugas penting bagi malam beridentitas minggu ini. Yakni mencatat
sejauh mana kota memperbudak remaja dan seberapa hebat remaja menduduki kota.
Sebab demikianlah surat keputusan hidup seorang penyair. Yang dibuat sendiri dan
bila memungkinkan, maka akan dipatuhi sendiri. Dinyatakan bahwa penyair punya
banyak cinta, tapi tersimpan seluruhnya dalam kata. Hidup penyair berkasih puisi.
Setidaknya lebih baik daripada di kota kita tenggelam!
Categorised in sajak